Open 24 Hours
+1 203 356 3596

Wajib Coba, Menu MPASI Pangan Lokal Bantu Cukupi Gizi Bayi

26 Agu, 2026 | Lauren | No Comments

Wajib Coba, Menu MPASI Pangan Lokal Bantu Cukupi Gizi Bayi

image 5 Website Resmi Pengurus Cabang Persatuan Ahli Gizi Anak Indonesia Kabupaten Bantul

Ringkasan Cepat:

  • Kemenkes menyebut pangan lokal seperti umbi-umbian, ikan, dan kacang-kacangan bisa memenuhi kebutuhan gizi harian bila porsi dan komposisinya tepat
  • Data Kemenkes triwulan III 2025 mencatat stunting balita usia 12–23 bulan masih di angka 19,9 persen, meski turun dari 22,7 persen
  • IDAI menegaskan tidak perlu menunda pemberian ikan, telur, atau daging pada MPASI bayi usia 6 bulan ke atas

Bantul, 26 Agustus 2026 — Ahli gizi mendorong orang tua memanfaatkan bahan pangan lokal seperti singkong, ubi jalar, ikan, dan tempe untuk menu MPASI, menyusul temuan Kemenkes bahwa pangan sekitar rumah sudah cukup memenuhi kebutuhan gizi bayi bila diolah dan dikombinasikan dengan tepat.

Mengapa Pangan Lokal Penting untuk MPASI?

Aneka ragam bahan pangan lokal kaya karbohidrat dan protein untuk menu MPASI sehat.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa pangan lokal Indonesia sudah mencakup semua kelompok gizi yang dibutuhkan bayi. Sumber karbohidrat bisa didapat dari singkong, ubi jalar, talas, ganyong, jagung, dan sagu — bukan hanya beras. Sumber protein hewani tersedia dari ikan tongkol, lele, bandeng, telur, dan daging ayam, sementara protein nabati bisa diperoleh dari tempe, tahu, kacang hijau, dan kacang merah, menurut pemetaan Kemenkes yang dipublikasikan Tribunnews.

Poin ini juga ditegaskan lewat tema Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 tahun 2026, “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”, yang diangkat Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes dalam webinar nasional 5 Februari 2026. Tema ini menyoroti tiga beban gizi yang berjalan beriringan di Indonesia: kekurangan nutrisi, kelebihan nutrisi, dan kekurangan zat gizi mikro.

“Esensi gizi seimbang adalah keberagaman dan proporsi pangan yang sesuai kebutuhan tubuh.” — Manjilala, S.Gz, M.Gizi, Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar & Ketua DPD PERSAGI Sulsel

Dalam opininya di Tribun-timur, Manjilala mencontohkan Sulawesi Selatan sebagai daerah dengan pangan lokal melimpah namun masalah gizi tetap muncul saat pangan segar tergeser makanan ultra-proses tinggi gula, garam, dan lemak — pola yang juga relevan untuk daerah lain di Indonesia, termasuk Bantul.

Apa Kata Kemenkes dan IDAI Soal Komposisi MPASI?

Sajian protein hewani telur dan ikan yang aman diberikan sejak awal MPASI usia 6 bulan menurut IDAI.

Ketua Tim Kerja Gizi Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Yuni Zahraini, SKM, MKM, menyampaikan bahwa manfaat pangan lokal hanya optimal jika masyarakat memahami cara menyusun menu bergizi seimbang — bukan sekadar tahu bahan apa saja yang tersedia. Ia menekankan pentingnya memperluas edukasi dan literasi gizi, sekaligus mengingatkan bahwa cara mengolah pangan menentukan apakah kandungan gizinya tetap terjaga atau justru berkurang.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melengkapi panduan ini dengan poin teknis yang sering disalahpahami orang tua. IDAI menegaskan tidak ada urutan wajib dalam pengenalan MPASI — karbohidrat, protein hewani seperti daging dan ikan, sayur, dan buah bisa mulai diberikan bersamaan sejak usia 6 bulan. Penundaan pemberian ikan dan telur sampai usia satu tahun, yang selama ini banyak dipercaya mencegah alergi, menurut IDAI tidak terbukti berguna untuk tujuan tersebut.

Kementerian Kesehatan lewat laman edukasi Keslan Kemkes juga merumuskan empat prinsip MPASI yang sejalan dengan panduan WHO: tepat waktu sejak usia 6 bulan, adekuat untuk memenuhi energi-protein-mikronutrien, aman dan higienis dalam pengolahan, serta diberikan secara responsif mengikuti sinyal lapar dan kenyang bayi.

Dampak: Stunting Masih Jadi Tantangan di Sejumlah Kelompok Usia

Pengukuran panjang badan balita di Posyandu untuk memantau pertumbuhan dan mencegah stunting usia 12–23 bulan.

Dampak dari pola MPASI yang belum optimal terlihat dari data Kemenkes. Dirjen Pelayanan Kesehatan Keluarga dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, memaparkan tren stunting balita per kelompok usia pada publikasi data triwulan III 2025: balita usia 0–5 bulan turun dari 13,7 menjadi 10 persen, usia 6–11 bulan turun dari 13,1 menjadi 11,5 persen, sementara usia 12–23 bulan turun dari 22,7 menjadi 19,9 persen. Kelompok usia 12–23 bulan — masa MPASI aktif — tetap menjadi titik paling rawan.

Pemerintah menetapkan target stunting nasional 18,8 persen pada 2025 dan target jangka panjang 14,2 persen pada 2029. Untuk mengejar target itu, Kemenkes menjalankan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal bagi balita gizi kurang dan ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK). Program ini secara eksplisit melarang penggunaan susu kental manis dan lebih menitikberatkan pada edukasi praktik memasak bagi orang tua, bukan sekadar bagi-bagi makanan siap saji.

Kronologi Kebijakan Pangan Lokal untuk Cegah Stunting

Menu MPASI padat gizi dari olahan ubi jalar, hati ayam, dan lemak tambahan minyak kelapa.
WaktuPerkembanganSumber
10 Nov 2025Kemenkes publikasikan data intervensi stunting triwulan III 2025, tren penurunan per kelompok usia balitaKemenkes via InfoPublik
5 Feb 2026Webinar nasional HGN ke-66 angkat tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”Kemkes.go.id
Jul 2026Ketua Tim Kerja Gizi Kemenkes soroti perlunya edukasi cara olah pangan lokalTribunnews
29 Jul 2026Pelatihan PMT berbasis pangan lokal bagi kader Puskesmas di berbagai daerahTransparansi Indonesia

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua Sekarang?

Proses mengukus bahan pangan lokal MPASI secara higienis untuk menjaga kandungan vitamin dan mineral.

Mengacu pada panduan Kemenkes dan IDAI di atas, orang tua tidak perlu bahan MPASI mahal atau impor untuk mencukupi gizi bayi. Kombinasi karbohidrat lokal (singkong, ubi, jagung), protein hewani (ikan, telur, ayam), dan protein nabati (tempe, tahu, kacang-kacangan) yang diperkenalkan sejak usia 6 bulan sudah sejalan dengan Pedoman Gizi Seimbang. Yang perlu diperhatikan adalah keberagaman menu, cara pengolahan yang benar, dan konsistensi tekstur yang dinaikkan bertahap sesuai usia bayi.

Baca Juga 15 Permainan 17 Agustus untuk Anak yang Seru dan Bikin Kompak

Sering Ditanya

Apakah MPASI dari bahan lokal sama bergizinya dengan produk MPASI kemasan?

Menurut pemetaan Kemenkes, pangan lokal mencakup semua kelompok gizi makro dan mikro yang dibutuhkan bayi bila porsi dan kombinasinya tepat — bukan soal mahal atau kemasan.

Kapan ikan dan telur boleh mulai diperkenalkan ke bayi?

IDAI menyatakan ikan, telur, dan daging bisa diberikan sejak usia 6 bulan bersamaan dengan bahan lain, tanpa perlu ditunda sampai usia 1 tahun.

Apa penyebab stunting masih tinggi di kelompok usia 12–23 bulan?

Data Kemenkes triwulan III 2025 menunjukkan kelompok usia ini — masa MPASI aktif — mencatat prevalensi tertinggi di antara kelompok balita lain, mengindikasikan kualitas dan keberagaman MPASI masih jadi tantangan utama pada periode tersebut.


Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi PAGA Kabupaten Bantul (Pengurus Cabang Persatuan Ahli Gizi Anak Indonesia Kabupaten Bantul), merujuk data resmi Kemenkes RI dan IDAI.

Write Reviews

Leave a Comment

Please Post Your Comments & Reviews

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Comments & Reviews