Open 24 Hours
+1 203 356 3596

Stunting Bantul Turun 16,5 Persen, Tapi Target 14 Persen Nasional Masih Jadi PR

1 Jul, 2026 | Lauren | No Comments

Stunting Bantul Turun 16,5 Persen, Tapi Target 14 Persen Nasional Masih Jadi PR

image Website Resmi Pengurus Cabang Persatuan Ahli Gizi Anak Indonesia Kabupaten Bantul

Ringkasan Cepat:

  • Prevalensi stunting Bantul turun dari 20,05% (2023) menjadi 16,5% (2024) menurut SSGI
  • Data administratif Dinas Kesehatan Bantul mencatat prevalensi jauh lebih rendah, 7,92% per Februari 2025
  • Target nasional 2029 sebesar 14,2% masih jauh dari capaian Bantul maupun rata-rata nasional

Bantul, 01 Juli 2026 — Prevalensi stunting balita di Kabupaten Bantul turun dari 20,05 persen pada 2023 menjadi 16,5 persen pada 2024, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Meski begitu, Pemkab Bantul mengakui target nasional 14,2 persen di tahun 2029 masih jadi pekerjaan rumah besar.

Mengapa Ini Penting?

Stunting Bantul Turun 16,5 Persen, Tapi Target 14 Persen Nasional Masih Jadi PR

Penurunan 4 poin dari 20,05 persen ke 16,5 persen dalam satu tahun cukup signifikan, dan menempatkan Bantul di bawah rata-rata nasional 19,8 persen pada 2024. Namun angka ini masih jauh dari target lama pemerintah pusat sebesar 14 persen yang sejatinya dipatok untuk tahun 2024, dan kini bergeser menjadi target jangka panjang 14,2 persen pada 2029 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

Yang membuat situasi lebih rumit, Bantul sempat mengalami kenaikan tajam dari 14,9 persen (2022) menjadi 20,05 persen (2023) sebelum akhirnya turun lagi. Tren naik-turun ini menunjukkan rapuhnya capaian penurunan stunting bila intervensi gizi tidak dijaga konsisten — sesuatu yang juga tercermin dalam pembahasan soal bagaimana stunting dan anemia bisa mengganggu perkembangan otak anak secara permanen jika tidak ditangani sejak 1.000 hari pertama kehidupan.

“Ini menunjukkan upaya bersama telah membuahkan hasil.” — Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta, Rembuk Stunting Kabupaten Bantul, 4 Juni 2025

Reaksi dan Dampak

Stunting Bantul Turun 16,5 Persen, Tapi Target 14 Persen Nasional Masih Jadi PR

Selain data SSGI berbasis survei sampel, Dinas Kesehatan Bantul juga memiliki data administratif dari penimbangan seluruh balita di posyandu — dan angkanya jauh lebih rendah. Pada Februari 2025, tercatat 7,92 persen atau sekitar 3.474 balita mengalami stunting dari total balita yang ditimbang, dengan sebaran kasus terbanyak di Kapanewon Imogiri dan Srandakan.

Perbedaan metodologi ini penting dipahami masyarakat: SSGI menggunakan sampel survei berjenjang nasional, sementara data penimbangan Dinkes mencakup seluruh balita by-name by-address di setiap posyandu. Angka penimbangan sendiri sempat naik dari 6,45 persen (2023) menjadi 7,01 persen (2024), yang oleh DPRD Bantul dinilai sebagai sinyal bahwa program intervensi perlu dievaluasi ulang, terutama untuk memastikan kecukupan gizi lewat program seperti MPASI yang tepat bagi tumbuh kembang anak sejak usia enam bulan.

Faktor risiko lain yang turut disorot adalah keamanan pangan program pemerintah. Sebelumnya laporan soal ribuan anak keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis juga memunculkan kekhawatiran bahwa program gizi anak bisa kontraproduktif bila standar keamanan dapur tidak dijaga ketat.

“Penurunan stunting itu harus kita lakukan secara bersama-sama, secara integratif.” — Ninik Istitarini, Kepala DP3AP2KB Kabupaten Bantul, Rembuk Stunting, 4 Juni 2025

Kronologi Peristiwa

Stunting Bantul Turun 16,5 Persen, Tapi Target 14 Persen Nasional Masih Jadi PR
WaktuKejadianSumber
2022Prevalensi stunting Bantul (SSGI) turun ke 14,9%bantulkab.go.id
2023Prevalensi Bantul naik tajam ke 20,05% (SSGI)bantulkab.go.id
Feb 2025Data penimbangan Dinkes: 7,92% balita stunting (3.474 anak)krjogja.com
2024 (dirilis Juni 2025)Prevalensi Bantul turun ke 16,5% (SSGI), nasional 19,8%Joglonews
Juni 2026Anggaran PPBMP Rp37,3 miliar dialokasikan, 40% untuk kemiskinan & stuntingharianjogja.com

Apa Selanjutnya?

Stunting Bantul Turun 16,5 Persen, Tapi Target 14 Persen Nasional Masih Jadi PR

Pemkab Bantul melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Padukuhan (PPBMP) 2026 mengalokasikan anggaran Rp37,3 miliar, dengan 40 persen di antaranya diarahkan untuk pengentasan kemiskinan dan pencegahan stunting — mencakup pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita dan bantuan pangan keluarga rentan. Hingga 10 Juni 2026, sekitar Rp16,3 miliar dari tahap pertama telah tersalurkan, meski sejumlah padukuhan masih menunggu pencairan karena laporan pertanggungjawaban tahun sebelumnya belum rampung.

Ke depan, keberhasilan menekan angka di bawah target 14,2 persen nasional akan sangat bergantung pada konsistensi intervensi 1.000 hari pertama kehidupan — mulai dari ASI eksklusif, kecukupan protein hewani balita usia 12–24 bulan, hingga pemantauan gizi remaja putri calon pengantin. Pemerintah daerah juga perlu menjaga agar tren turun ini tidak kembali berbalik naik seperti yang terjadi pada 2023, sekaligus memastikan program gizi anak lain — termasuk edukasi soal pentingnya omega bagi perkembangan otak anak dan kewaspadaan terhadap risiko pola makan pemicu diabetes pada anak — berjalan beriringan dengan program penurunan stunting.

⚠️ Konsultasikan dengan dokter anak untuk pemantauan tumbuh kembang dan status gizi balita secara berkala.


Write Reviews

Leave a Comment

Please Post Your Comments & Reviews

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Comments & Reviews