Ringkasan Cepat:
- Kemenkes: stunting relatif terkendali sampai usia 12 bulan berkat ASI eksklusif, lalu risikonya naik begitu anak masuk fase MPASI
- SSGI 2024 mencatat stunting balita 12–23 bulan masih 19,9 persen, jauh di atas kelompok 0–5 bulan yang cuma 10 persen
- Kurangnya protein hewani harian di rumah jadi biang keladi utama, bukan cuma soal program makan gratis di sekolah
Bantul, 12 Agustus 2026 — Kementerian Kesehatan mengungkap fase makanan pendamping ASI (MPASI) justru jadi titik paling rawan anak jatuh stunting, meski selama enam bulan pertama kondisi gizi bayi relatif aman berkat ASI eksklusif, karena asupan protein hewani di rumah sering tidak mencukupi.
Mengapa Ini Penting?

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa kondisi stunting relatif terkendali sampai anak berusia 12 bulan, sebagian besar berkat pemberian ASI eksklusif. Begitu anak mulai dikenalkan MPASI, risiko itu justru meningkat, dan penyebab utamanya adalah kurangnya asupan protein hewani serta pola makan bergizi seimbang di rumah.
Data ini bukan isapan jempol. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional memang turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen. Tapi kalau dipecah per kelompok usia, gambarannya berubah. Balita usia 0–5 bulan mencatat stunting 10 persen, kelompok 6–11 bulan 11,5 persen, sementara kelompok 12–23 bulan — yakni fase MPASI berjalan penuh — masih di angka 19,9 persen. Lompatannya jelas terlihat begitu ASI eksklusif berakhir dan makanan pendamping mengambil alih peran utama.
Kemenkes menargetkan prevalensi stunting turun ke 17,5 persen pada 2026, menuju 14,2 persen pada 2029 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Untuk mengejar target itu, pemerintah kini fokus pada strategi “no new stunting” alias mencegah kasus baru muncul di rentang usia paling rawan ini.
Reaksi dan Dampak

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejak lama menekankan bahwa protein hewani bukan pelengkap, melainkan syarat wajib MPASI. Dalam rekomendasi resminya, IDAI menyebut sumber seperti ikan, telur, ayam, daging, dan hati sebagai protein berkualitas tinggi karena mengandung asam amino esensial yang mudah diserap tubuh dan tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh protein nabati.
Ketua Umum PP IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso menjelaskan mengapa asam amino esensial ini begitu krusial bagi pertumbuhan anak.
“Ada satu ‘saklar’ pertumbuhan yang namanya mTOR-C. mTOR-C hanya akan dinyalakan ‘saklar’ pertumbuhannya ketika kadar asam amino dalam darahnya itu cukup tinggi, dan asam amino esensial ini sumbernya adalah dari protein hewani.” — dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), Ketua Umum PP IDAI
Dampaknya berlapis. Anak yang kekurangan protein hewani di fase MPASI bukan cuma berisiko tubuh pendek, tapi juga rawan gangguan perkembangan otak, karena zat besi, zinc, dan omega-3 yang dibutuhkan otak justru paling banyak tersedia dari sumber hewani. Kemenkes mencatat sekitar 11 persen bayi bahkan sudah lahir dengan panjang badan di bawah 48 sentimeter, sehingga fase MPASI menjadi jendela terakhir untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan sebelum periode emas 1.000 hari pertama kehidupan berakhir.
Kronologi Peristiwa

| Waktu | Kejadian | Sumber |
|---|---|---|
| 2023 | Prevalensi stunting nasional tercatat 21,5 persen | SSGI, dirilis Kemenkes RI |
| 26 Mei 2025 | Hasil SSGI 2024 diumumkan: stunting turun jadi 19,8 persen, dengan kelompok 12–23 bulan masih 19,9 persen | Kemenkes RI (BKPK) |
| 18 Mei 2026 | Kemenkes tegaskan risiko stunting melonjak saat anak masuk fase MPASI, target 17,5 persen di 2026 | Kemenkes RI, dikutip Vibizmedia & InfoPublik |
| 12 Agustus 2026 | Kemenkes lanjutkan dorongan integrasi program Makan Bergizi Gratis dengan edukasi gizi keluarga di rumah | Kemenkes RI |
Apa Selanjutnya?

Kemenkes mendorong integrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan edukasi gizi keluarga, sebab makanan dari program sekolah hanya menutup satu kali makan, sementara kebutuhan gizi harian anak tetap harus dipenuhi menyeluruh di rumah. Pemerintah juga memperkuat pemantauan tumbuh kembang lewat Posyandu sebagai sistem deteksi dini, sehingga anak yang berat badannya stagnan atau turun bisa segera mendapat intervensi tambahan gizi sebelum jatuh ke kondisi stunting permanen.
Enam provinsi — Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Banten, dan Nusa Tenggara Timur — menyumbang sekitar separuh kasus stunting balita nasional, sehingga intervensi di fase MPASI di wilayah-wilayah ini akan jadi penentu apakah target 17,5 persen pada 2026 tercapai. Data SSGI berikutnya, yang akan mengonfirmasi apakah tren perbaikan di usia 12–23 bulan berlanjut, dijadwalkan menjadi rujukan evaluasi program pada 2026.
Bagi orang tua, langkah paling realistis adalah memastikan setiap porsi MPASI — sejak suapan pertama di usia 6 bulan — selalu menyertakan lauk hewani, bukan cuma karbohidrat yang membuat anak kenyang tapi minim zat gizi pembangun tubuh. Variasi sumber protein seperti ikan kembung yang kaya omega-3 bisa jadi pilihan terjangkau untuk memenuhi kebutuhan itu setiap hari, mengingat kualitas MPASI di rumah kini menjadi variabel yang paling menentukan, jauh lebih besar pengaruhnya dibanding satu kali makan gratis di sekolah — apalagi di tengah sorotan publik terhadap pengawasan keamanan pangan program MBG yang masih berlangsung.
⚠️ Konsultasikan dengan dokter anak sebelum mengambil tindakan terkait pola makan atau status gizi anak Anda.
Artikel ini ditulis oleh Lauren, kontributor kesehatan anak di pagakabbantul.org.
Write Reviews
Leave a Comment
No Comments & Reviews