Open 24 Hours
+1 203 356 3596

Jangan Sepelekan Tantrum Anak Rebutan HP, Ini Tanda Kecanduan Gadget

28 Jul, 2026 | Lauren | No Comments

Jangan Sepelekan Tantrum Anak Rebutan HP, Ini Tanda Kecanduan Gadget

image 14 Website Resmi Pengurus Cabang Persatuan Ahli Gizi Anak Indonesia Kabupaten Bantul

Ringkasan Cepat:

  • Tantrum saat ponsel atau tablet diambil bisa menjadi tanda kecanduan gadget, bukan sekadar rewel biasa
  • Dokter anak menyebut kecanduan gadget bekerja pada jalur otak yang mirip kecanduan zat lain
  • Kemenkes sudah punya panduan durasi screen time berdasarkan usia anak

🔖 Simpan artikel ini untuk mendapatkan update terkini.

Bantul, 28 Juli 2026 — Banyak orang tua mengeluhkan anak yang menangis, marah, bahkan mengamuk begitu ponsel atau tablet diambil dari tangannya. Menurut dokter spesialis anak, pola ini bisa jadi bukan sekadar tantrum biasa, melainkan tanda awal anak mulai kecanduan gadget.

Mengapa Ini Penting?

Jangan Sepelekan Tantrum Anak Rebutan HP, Ini Tanda Kecanduan Gadget

Screen time anak Indonesia terus naik seiring makin mudahnya akses gadget di rumah. Kementerian Kesehatan RI sudah menerbitkan panduan penggunaan gadget berdasarkan usia: bayi usia 0–6 bulan sebaiknya sama sekali belum diperkenalkan gadget, usia 1–2 tahun dibatasi maksimal satu jam per hari, dan anak sampai usia 6 tahun boleh menggunakan gadget asal selalu didampingi orang tua.

Masalahnya, banyak keluarga jauh melampaui batas ini tanpa disadari. Ketika gadget sudah jadi rutinitas harian yang sulit dihentikan, reaksi emosional anak saat perangkat diambil sering muncul sebagai sinyal pertama.

“Kalau kecanduan gadget ini letaknya di otak kita sama dengan kecanduan yang lain.” — dr. Multi Angela, Sp.A, dikutip dari wawancara Tanya Dokter, Tribunjakarta

Menurut dr. Multi Angela, anak yang terlalu sering menatap layar kehilangan banyak kesempatan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar. Padahal komunikasi tatap muka dengan keluarga adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang, terutama pada usia dini.

Reaksi dan Dampak

Jangan Sepelekan Tantrum Anak Rebutan HP, Ini Tanda Kecanduan Gadget

Psikolog anak dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, Aisyah Almas Silmina, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa tantrum saat gadget diambil memang bisa terjadi secara wajar, terutama pada anak yang sudah terbiasa menggunakan gadget tanpa batas jelas. Namun ia mengingatkan orang tua untuk tidak langsung menyerah dan mengembalikan gadget hanya agar anak berhenti menangis.

“Jangan sampai setiap kali anak menangis gadget langsung diberikan.” — Aisyah Almas Silmina, S.Psi., M.Psi., Psikolog, RSPON, dikutip dari Kompas.com

Jika pola ini terus dibiarkan, anak akan belajar bahwa menangis adalah cara efektif mendapatkan apa yang diinginkan. Ke depannya, siklus tantrum-gadget ini justru makin sulit diputus.

Di sisi lain, dokter spesialis anak Dianing Latifah menyarankan pendekatan bertahap, bukan pelarangan total. Membatasi gadget secara mendadak justru berisiko memicu konflik dan membuat anak makin sulit menerima aturan baru.

Tanda Anak Mulai Kecanduan Gadget

Berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua, berdasarkan penjelasan dokter dan psikolog anak:

  1. Anak menangis, marah, atau mengamuk saat gadget diambil
  2. Sulit berkonsentrasi atau mudah terdistraksi tanpa gadget
  3. Menunjukkan keterlambatan bicara (speech delay)
  4. Kurang tertarik berinteraksi dengan orang di sekitarnya
  5. Marah berlebihan jika waktu bermain gadget dikurangi

Bila tanda-tanda ini muncul berulang, orang tua disarankan mulai menyusun aturan penggunaan gadget yang jelas dan konsisten di rumah.

Cara Orang Tua Merespons Tantrum Gadget

Jangan Sepelekan Tantrum Anak Rebutan HP, Ini Tanda Kecanduan Gadget

Beberapa langkah yang disarankan tenaga profesional saat menghadapi tantrum akibat gadget:

  • Validasi emosi anak terlebih dahulu, jangan langsung dimarahi balik
  • Tunggu anak tenang, baru ajak bicara soal aturan yang sudah disepakati
  • Tawarkan aktivitas pengganti yang sama menariknya, seperti bermain di luar, menggambar, atau membaca buku cerita
  • Kurangi durasi gadget secara bertahap, bukan pelarangan mendadak
  • Konsisten menjalankan aturan meski anak sempat protes

Jika berbagai upaya sudah dicoba namun anak tetap menunjukkan ketergantungan berat, orang tua disarankan mencari bantuan tenaga profesional seperti psikolog anak.

Apa Selanjutnya?

Jangan Sepelekan Tantrum Anak Rebutan HP, Ini Tanda Kecanduan Gadget

Pemerintah turut memperketat perlindungan anak di ranah digital melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tunas. Kebijakan ini disusun merespons meningkatnya risiko bagi anak di internet, termasuk paparan konten tidak layak hingga kecanduan platform digital, dan akan diterapkan bertahap ke seluruh platform digital.

Bagi orang tua, aturan ini menjadi pengingat bahwa pengawasan gadget bukan hanya urusan rumah tangga, tapi juga bagian dari isu kesehatan anak yang lebih luas — termasuk kaitannya dengan pola makan dan tumbuh kembang otak yang sudah dibahas dalam beberapa kajian kesehatan anak sebelumnya, di mana kebiasaan main gadget berjam-jam turut disebut sebagai salah satu faktor risiko obesitas dan gangguan metabolik pada anak.

Nutrisi yang cukup untuk mendukung perkembangan otak anak juga tetap relevan di sini, mengingat kemampuan anak mengelola emosi turut dipengaruhi kondisi gizi dan kesehatan otaknya secara keseluruhan. Beberapa nutrisi seperti omega-3 diketahui berperan dalam menjaga fungsi saraf dan kestabilan emosi anak, seperti pernah dibahas dalam artikel pentingnya omega bagi otak anak.


Write Reviews

Leave a Comment

Please Post Your Comments & Reviews

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Comments & Reviews