9 Agu, 2026 | Lauren | No Comments
32,5% Anak Mengalami Dehidrasi di Cuaca Ekstrem? Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai
32,5% anak disebut mengalami dehidrasi di cuaca ekstrem. Kenali risiko cuaca panas bagi anak, tanda dehidrasi, dan cara mencegahnya sejak dini.
pagakabbantul – Cuaca ekstrem sekarang bukan cuma perkara, “Wah, hari ini panas banget.” Buat anak-anak, suhu tinggi dan gelombang panas bisa menjadi isu kesehatan yang cukup serius. Salah satu risiko yang paling perlu diperhatikan adalah dehidrasi pada anak.
Angka 32,5% anak mengalami dehidrasi di tengah cuaca ekstrem memang beredar sebagai gambaran besarnya risiko kekurangan cairan. Namun, angka spesifik tersebut perlu dibaca dengan hati-hati karena sumber primer yang memverifikasinya belum jelas. Yang sudah lebih well-established adalah fakta bahwa paparan panas ekstrem pada anak memang makin luas dan dapat meningkatkan risiko dehidrasi serta gangguan kesehatan terkait panas.
UNICEF, misalnya, menyebut sekitar sepertiga anak di dunia mengalami rata-rata empat hingga lima gelombang panas setiap tahun. Sementara itu, laporan UNICEF 2026 menunjukkan hampir seluruh anak di dunia kini terpapar setidaknya satu jenis bahaya iklim, mulai dari panas ekstrem, gelombang panas, kekeringan hingga banjir.
So yes, cuaca ekstrem bukan sekadar bikin anak cranky atau malas bermain di luar. Dalam kondisi tertentu, panas berlebih bisa menjadi ancaman nyata terhadap kesehatan mereka.
Anak Dehidrasi di Cuaca Ekstrem Jadi Risiko yang Makin Relevan
Dehidrasi merupakan kondisi ketika tubuh kehilangan cairan lebih banyak dibandingkan cairan yang masuk. Pada anak, kondisi ini bisa berkembang relatif cepat sehingga orang tua dan pengasuh perlu lebih aware terhadap perubahan kondisi tubuh mereka.
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa suhu tinggi dapat memicu keringat berlebih yang berpotensi menyebabkan dehidrasi. Cairan tubuh sendiri punya peran penting dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk menjaga suhu tubuh, sirkulasi darah, dan proses pencernaan.
Ketika temperatur lingkungan meningkat, tubuh berusaha mempertahankan suhu normal, salah satunya melalui produksi keringat. Problem-nya, semakin banyak cairan yang keluar tanpa diimbangi asupan yang cukup, semakin tinggi pula kemungkinan tubuh mengalami kekurangan cairan.
Anak-anak membutuhkan perhatian ekstra dalam situasi seperti ini. Mereka belum tentu menyadari bahwa tubuh sedang membutuhkan cairan dan tidak selalu bisa mengomunikasikan rasa haus atau keluhan fisik dengan jelas.
Secara fisiologis, respons anak terhadap suhu ekstrem tidak sepenuhnya sama dengan orang dewasa.
UNICEF menjelaskan bahwa bayi dan anak kecil, khususnya mereka yang berusia di bawah lima tahun, termasuk kelompok yang paling berisiko mengalami peningkatan masalah kesehatan dan kematian berkaitan dengan panas. Anak juga dapat mengalami heat stress lebih cepat dan lebih berat dibandingkan orang dewasa.
Ini yang kadang missed oleh orang tua.
Anak terlihat masih aktif lari-larian, bermain bola, atau bersepeda di luar rumah sehingga dianggap baik-baik saja. Padahal tubuhnya bisa terus kehilangan cairan melalui keringat.
Ketika aktivitas fisik bertemu dengan temperatur tinggi, paparan matahari, pakaian yang terlalu panas, dan kurangnya kesempatan minum, risikonya obviously menjadi lebih besar.
Bukan Cuma Haus, Ini Tanda Dehidrasi pada Anak

Salah satu misconception yang cukup umum adalah menganggap dehidrasi selalu dimulai dengan keluhan haus berat. Padahal, menunggu anak bilang “haus banget” bukan strategi terbaik untuk menjaga hidrasi mereka.
Orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi anak, terutama ketika cuaca sedang sangat panas atau setelah anak melakukan aktivitas fisik cukup lama.
Tanda yang patut diperhatikan antara lain mulut dan bibir terasa kering, anak terlihat lebih lemas dari biasanya, frekuensi buang air kecil berkurang, serta urine menjadi lebih pekat.
Dalam kondisi yang lebih berat, anak dapat mengalami gangguan yang lebih serius.
UNICEF memperingatkan bahwa panas berlebihan pada anak dapat berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh, detak jantung cepat, kram, sakit kepala berat, kebingungan hingga pingsan. Dehidrasi juga dapat berkontribusi terhadap heat stroke dan masalah kesehatan lainnya.
Jadi ketika anak mendadak sangat lemas setelah bermain di tengah panas, jangan langsung assume mereka cuma capek biasa.
Dehidrasi bukan hanya soal kehilangan air.
Ketika tubuh kehilangan banyak cairan, keseimbangan elektrolit juga dapat terganggu. Kementerian Kesehatan menyebut kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi otot dan jantung.
Pada kondisi berat, kehilangan cairan juga berpotensi menyebabkan syok hipovolemik, yakni kondisi serius ketika volume darah yang beredar tidak mencukupi sehingga aliran darah menuju organ vital terganggu.
UNICEF juga mencatat bahwa heat stress akibat suhu ekstrem dapat berdampak pada kesehatan anak. Dehidrasi dapat berkaitan dengan heat stroke dan diare, sementara paparan panas ekstrem juga dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi organ.
Artinya, narasi “anak kurang minum paling cuma haus” sudah saatnya ditinggalkan.
Dalam situasi cuaca ekstrem, hidrasi adalah bagian dari perlindungan kesehatan anak.
Cuaca Ekstrem Bukan Lagi Isu Masa Depan
Concern mengenai panas ekstrem semakin relevan karena perubahan iklim membuat paparan suhu tinggi menjadi lebih sering dan intens di banyak wilayah.
UNICEF dalam The Children’s Climate Risk Report 2026 menyebut hampir semua anak di dunia kini menghadapi setidaknya satu jenis ancaman iklim. Sekitar 1,1 miliar anak bahkan berisiko terpapar sedikitnya tiga ancaman iklim yang saling tumpang tindih.
Ancaman tersebut mencakup kekeringan, panas ekstrem, gelombang panas, kebakaran, banjir pesisir, banjir sungai, badai tropis, serta badai pasir dan debu.
Indonesia juga mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap dampak kesehatan akibat panas ekstrem.
Pada Juli 2026, Kementerian Kesehatan bersama WHO dan sejumlah mitra meluncurkan KATALIS-HEAT (Knowledge, Assessment & Targeted Action for Local Implementation and Solutions for Heat-Health). Program tersebut diarahkan untuk memahami risiko kesehatan akibat panas serta mendukung perencanaan aksi terkait panas di Indonesia.
Ini penting karena panas ekstrem bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan. Dalam konteks kesehatan publik, temperatur tinggi dapat memengaruhi kelompok rentan, termasuk anak-anak.
Sekitar Sepertiga Anak Dunia Terpapar Gelombang Panas Berulang
Daripada terpaku pada angka 32,5% yang sumber primernya belum jelas, ada statistik global lain yang memiliki basis data lebih kuat.
UNICEF menyebut sekitar sepertiga anak di dunia mengalami rata-rata empat hingga lima gelombang panas per tahun.
Indikator paparan panas tersebut antara lain mencakup kondisi ketika temperatur melebihi 35 derajat Celsius selama puluhan hari dalam setahun, gelombang panas berlangsung beberapa hari, atau suhu berada jauh di atas rata-rata lokal.
Data UNICEF sebelumnya juga menunjukkan besarnya skala masalah tersebut. Pada 2022, sekitar 559 juta anak diperkirakan telah terpapar gelombang panas dengan frekuensi tinggi.
Sementara analisis UNICEF terhadap data 2020 menemukan sekitar 76% anak di Asia Selatan atau sekitar 460 juta anak terpapar suhu ekstrem tinggi, yang didefinisikan sebagai kondisi dengan setidaknya 83 hari per tahun memiliki suhu di atas 35 derajat Celsius.
Angkanya menunjukkan satu hal: exposure anak terhadap temperatur tinggi bukan isu kecil.
Cara Mencegah Dehidrasi Anak Saat Cuaca Panas
Pencegahan sebenarnya cukup straightforward, tetapi membutuhkan konsistensi dari orang dewasa di sekitar anak.
Pertama, jangan menunggu anak merasa sangat haus. Berikan kesempatan minum secara berkala, terutama ketika mereka sedang aktif atau berada di lingkungan panas. Kementerian Kesehatan juga menyarankan agar anak mendapatkan cairan yang cukup, khususnya ketika cuaca panas atau sedang berolahraga.
Kedua, atur aktivitas outdoor.
Ketika suhu sedang sangat tinggi, aktivitas fisik berat di bawah paparan matahari sebaiknya dikurangi. Anak tetap membutuhkan aktivitas fisik, tetapi timing dan kondisi lingkungan perlu diperhitungkan.
Ketiga, pilih pakaian yang nyaman dan sesuai kondisi cuaca. Pakaian ringan dan tidak terlalu tebal dapat membantu tubuh melepaskan panas dengan lebih baik.
Keempat, perhatikan kondisi anak setelah aktivitas. Jangan hanya bertanya, “Capek nggak?” Perhatikan apakah anak masih responsif seperti biasa, apakah bibirnya terlihat kering, apakah ia buang air kecil secara normal, dan apakah muncul keluhan seperti pusing atau kram.
Yang tidak kalah penting, bayi dan anak kecil membutuhkan monitoring lebih dekat karena mereka sangat bergantung pada orang dewasa untuk mendapatkan cairan dan perlindungan dari panas.
Respons terhadap cuaca ekstrem seharusnya tidak berhenti di rumah.
Anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah. Karena itu, sekolah perlu mempunyai pendekatan yang adaptif terhadap temperatur ekstrem, terutama untuk aktivitas olahraga, upacara, kegiatan lapangan, atau aktivitas lain dengan paparan matahari cukup lama.
Akses terhadap air minum juga menjadi basic requirement.
Anak seharusnya mendapatkan kesempatan minum tanpa harus menunggu jam istirahat ketika kondisi cuaca sedang sangat panas. Guru dan tenaga sekolah juga perlu mengenali tanda awal heat stress dan dehidrasi.
Kenapa ini penting? Karena dampak panas tidak berhenti pada kesehatan fisik.
UNICEF mencatat bahwa temperatur udara tinggi dan hidrasi yang rendah diketahui dapat memengaruhi kemampuan konsentrasi anak. Gelombang panas juga dikaitkan dengan penurunan kehadiran sekolah.
Jadi isu hidrasi sebenarnya bersinggungan langsung dengan proses belajar.
Cuaca panas memang tidak otomatis membuat setiap anak mengalami dehidrasi. Begitu pula angka 32,5% tidak seharusnya digunakan sebagai klaim universal tanpa mengetahui populasi, lokasi, metode penelitian, dan sumber datanya.
Namun, risiko dehidrasi akibat temperatur tinggi sangat real.
Yang dibutuhkan bukan panic mode setiap kali matahari terasa menyengat, melainkan perubahan kebiasaan sederhana: menyediakan air minum, mengingatkan anak minum secara rutin, menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca, serta mengenali tanda-tanda tubuh mulai kekurangan cairan.
Apalagi tren global menunjukkan paparan anak terhadap panas ekstrem dan berbagai ancaman iklim semakin luas.
Dalam situasi tersebut, menjaga hidrasi mungkin terlihat seperti hal kecil. But actually, kebiasaan sederhana itu bisa menjadi salah satu garis pertahanan paling basic untuk menjaga kesehatan anak ketika cuaca semakin unpredictable.
Referensi
- Kementerian Kesehatan RI – Dehidrasi pada Anak, Ayo Sehat Kemenkes RI.
- World Health Organization Indonesia – Indonesia Meluncurkan KATALIS-HEAT untuk Memahami dan Mengatasi Dampak Kesehatan dari Cuaca Panas Ekstrem, 23 Juli 2026.
- UNICEF – Heat Waves and How They Impact Children.
- UNICEF – Why Heat Exhaustion and Heat Stroke Happen Fast for Children – and What to Do, 1 Juli 2025.
- UNICEF – The Children’s Climate Risk Report 2026.
- UNICEF – 559 Million Children Currently Exposed to High Heatwave Frequency, 25 Oktober 2022.
- UNICEF Asia-Pacific – 76 Per Cent of Children Exposed to Extreme High Temperatures in South Asia, 7 Agustus 2023.
Write Reviews
Leave a Comment
No Comments & Reviews