Open 24 Hours
+1 203 356 3596

Cara Mengatasi Anak Tantrum Tanpa Marah, Ini Langkah yang Dianjurkan Psikolog

29 Jul, 2026 | Lauren | No Comments

Cara Mengatasi Anak Tantrum Tanpa Marah, Ini Langkah yang Dianjurkan Psikolog

Anak Tantrum

pagakabbantul – Melihat anak menangis keras, berteriak, berguling di lantai, atau melempar barang tentu bisa membuat orang tua panik. Apalagi jika Anak tantrum terjadi di tempat umum seperti pusat perbelanjaan atau restoran. Tidak sedikit orang tua yang akhirnya ikut terpancing emosi karena merasa malu atau bingung menghadapi situasi tersebut.

Padahal, Anak tantrum merupakan bagian yang cukup umum dalam perkembangan anak, terutama pada usia 1 hingga 4 tahun. Pada fase ini, kemampuan anak untuk mengendalikan emosi dan mengungkapkan keinginan dengan kata-kata belum berkembang secara optimal. Akibatnya, ketika merasa kecewa, lelah, lapar, atau tidak mendapatkan apa yang diinginkan, mereka meluapkan emosi melalui tangisan atau perilaku yang sulit dikendalikan.

Kabar baiknya, Anak tantrum bukan berarti anak nakal atau orang tua gagal mendidik. Dengan cara penanganan yang tepat, tantrum justru bisa menjadi momen bagi anak untuk belajar mengenali dan mengelola emosinya.

Apa Itu Tantrum? Tantrum adalah ledakan emosi yang ditunjukkan anak melalui berbagai perilaku seperti menangis keras, berteriak, memukul, menendang, menggigit, melempar benda, hingga menjatuhkan tubuh ke lantai.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), tantrum paling sering terjadi pada anak usia 18 bulan hingga 4 tahun karena kemampuan mengatur emosi dan berkomunikasi masih berkembang. Seiring bertambahnya usia dan kemampuan berbahasa, frekuensi tantrum umumnya akan berkurang.

Penyebab Anak Tantrum

Tantrum bisa dipicu oleh banyak hal. Salah satu penyebab paling umum adalah rasa frustrasi karena anak belum mampu mengungkapkan apa yang diinginkan.

Selain itu, rasa lapar, mengantuk, kelelahan setelah bermain, terlalu banyak stimulasi, atau perubahan rutinitas juga dapat membuat anak lebih mudah meledak emosinya.

Pada beberapa kondisi, tantrum muncul ketika anak sedang belajar mandiri tetapi merasa kemampuannya belum sesuai dengan keinginannya. Misalnya saat ingin memakai baju sendiri namun mengalami kesulitan.

Tantrum juga bisa menjadi cara anak mencari perhatian apabila mereka merasa diabaikan.

Tetap Tenang Adalah Langkah Pertama

Saat anak tantrum, hal terpenting yang perlu dilakukan orang tua adalah menjaga ketenangan diri sendiri.

Anak belajar mengelola emosi dengan melihat respons orang dewasa di sekitarnya. Jika orang tua ikut berteriak atau marah, situasi justru bisa semakin memburuk.

Tarik napas perlahan, gunakan nada bicara yang lembut, dan ingat bahwa perilaku tersebut merupakan bentuk luapan emosi, bukan upaya anak untuk “melawan” orang tua.

Pastikan Anak Tetap Aman

Jika anak berguling di lantai atau memukul benda di sekitarnya, prioritaskan keselamatan.

Singkirkan benda tajam, barang pecah belah, atau benda yang dapat melukai anak. Bila Anak tantrum terjadi di tempat umum, pindahkan anak ke lokasi yang lebih tenang apabila memungkinkan.

Apabila anak mencoba memukul atau membenturkan kepala, peluk atau tahan dengan lembut hanya untuk mencegah cedera, bukan sebagai hukuman.

Jangan Langsung Memenuhi Semua Keinginannya

Banyak orang tua memilih mengabulkan permintaan anak agar tangisan segera berhenti.

Padahal, jika dilakukan terus-menerus, anak dapat belajar bahwa menangis atau mengamuk adalah cara yang efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Tetaplah konsisten pada aturan yang telah dibuat. Jika memang tidak boleh membeli mainan atau makan permen sebelum makan siang, jelaskan dengan singkat dan tetap pada keputusan tersebut.

Validasi Perasaan Anak

Meski tidak harus selalu mengabulkan keinginannya, orang tua tetap perlu mengakui perasaan anak.

Kalimat sederhana seperti, “Mama tahu kamu sedang kecewa karena belum boleh main lagi,” dapat membantu anak merasa dipahami.

Validasi emosi berbeda dengan menyetujui perilakunya. Orang tua tetap bisa mengatakan bahwa memukul, menggigit, atau melempar barang bukanlah cara yang benar untuk menunjukkan rasa marah.

Hindari Berdebat Saat Anak Tantrum

Ketika sedang menangis hebat, kemampuan anak untuk menerima penjelasan logis biasanya menurun.

Karena itu, hindari memberikan ceramah panjang atau terus-menerus bertanya mengapa anak menangis.

Lebih baik tunggu hingga emosinya mulai mereda. Setelah itu, ajak anak berbicara mengenai apa yang dirasakan dan bagaimana cara yang lebih baik untuk mengungkapkan emosi di lain waktu.

Alihkan Perhatian Jika Masih Memungkinkan

Pada anak usia yang lebih kecil, mengalihkan perhatian sering kali cukup efektif.

Misalnya dengan mengajak melihat burung, membaca buku favorit, menyanyikan lagu, atau mengajak berjalan ke tempat yang lebih tenang.

Namun teknik ini biasanya lebih berhasil dilakukan sebelum Anak tantrum mencapai puncaknya.

Ajarkan Anak Mengenali Emosi

Anak Tantrum

Setelah anak tenang, manfaatkan momen tersebut untuk mengenalkan berbagai emosi.

Ajarkan kata-kata seperti “marah”, “sedih”, “kecewa”, atau “kesal”. Semakin kaya kosakata emosi yang dimiliki anak, semakin mudah mereka menyampaikan perasaan tanpa harus menangis atau mengamuk.

Orang tua juga bisa menjadi contoh dengan mengatakan, “Ayah sedang sedikit kesal, jadi ayah tarik napas dulu.”

Terapkan Rutinitas yang Konsisten

Anak cenderung merasa lebih aman ketika memiliki jadwal yang teratur.

Pastikan waktu makan, tidur siang, bermain, dan istirahat berlangsung secara konsisten setiap hari.

Rutinitas yang baik dapat mengurangi risiko tantrum akibat rasa lapar, lelah, atau mengantuk.

Berikan Pujian Saat Anak Berhasil Mengendalikan Emosi

Tidak hanya memberi perhatian saat anak tantrum, orang tua juga perlu memberikan apresiasi ketika anak berhasil mengelola emosinya.

Misalnya dengan mengatakan, “Mama bangga tadi kamu bilang kalau sedang marah, bukan langsung melempar mainan.”

Pujian positif membantu memperkuat perilaku baik sehingga anak lebih termotivasi mengulanginya.

Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi ke Dokter? Sebagian besar tantrum merupakan bagian normal dari perkembangan anak. Namun, konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog apabila tantrum berlangsung lebih dari 15–25 menit secara rutin, terjadi berkali-kali setiap hari, anak sering melukai diri sendiri atau orang lain, atau tantrum masih sangat sering terjadi setelah usia lima tahun.

Pemeriksaan juga diperlukan apabila orang tua merasa kesulitan mengendalikan situasi atau mencurigai adanya gangguan perkembangan yang mendasari perilaku tersebut.

Tantrum Bisa Menjadi Momen Belajar

Menghadapi anak tantrum memang membutuhkan kesabaran ekstra. Namun, di balik tangisan dan ledakan emosi tersebut, anak sebenarnya sedang belajar memahami dunia dan mengelola perasaannya.

Dengan tetap tenang, memberikan rasa aman, menetapkan batasan yang konsisten, serta mengajarkan cara mengekspresikan emosi yang sehat, orang tua dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih mampu mengendalikan diri. Tantrum mungkin tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi dengan pendampingan yang tepat, frekuensi dan intensitasnya umumnya akan berkurang seiring bertambahnya usia.

Referensi

Write Reviews

Leave a Comment

Please Post Your Comments & Reviews

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Comments & Reviews