10 Sep, 2026 | Lauren | No Comments
13 Cara IDAI Lindungi Anak dari Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau
Ringkasan: Gunung Anak Krakatau erupsi pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan menyebarkan abu vulkanik ke Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi mengeluarkan 13 rekomendasi untuk melindungi anak, mulai dari evakuasi, pemantauan ISPU, penggunaan masker anak, sampai tanda bahaya yang mengharuskan anak segera dibawa ke rumah sakit.
Sejak erupsi Gunung Anak Krakatau, anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap dampak abu vulkanik. Bukan hanya karena saluran napasnya masih kecil, tetapi juga karena anak lebih sering bermain di luar rumah tanpa menyadari bahwa udara di sekitarnya sedang tidak aman.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi merespons kondisi ini dengan mengeluarkan 13 rekomendasi konkret bagi orangtua. Artikel ini merangkum seluruh rekomendasi tersebut, disertai konteks medis dari IDAI serta data terbaru Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengenai dampaknya di lapangan.
Apa Itu Abu Vulkanik dan Kenapa Berbahaya bagi Anak?

Abu vulkanik bukan debu biasa. Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), menjelaskan bahwa abu vulkanik terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat halus dengan permukaan tajam dan abrasif. Saat terhirup, partikel ini dapat menggores dan mengiritasi saluran pernapasan anak.
Abu vulkanik juga mengandung gas iritan seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO) yang dapat memperparah iritasi serta memicu peradangan pada sistem pernapasan. Dokter spesialis anak dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA (K), menambahkan bahwa kandungan silika kristalin dalam abu vulkanik berisiko memperberat gejala pada anak dengan riwayat asma.
Mengapa Ini Jadi Perhatian Serius di September 2026?

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026 membuat sekitar 23,36 juta jiwa berada di wilayah terdampak sebaran abu. Kemenkes pun menyiagakan 413 rumah sakit dan 830 puskesmas di 20 kabupaten/kota untuk mengantisipasi dampak kesehatannya.
Dampaknya terlihat nyata pada data kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono menyampaikan bahwa hingga 6 September 2026, tercatat 16.759 kasus ISPA kumulatif di 23 kabupaten/kota pada 4 provinsi terdampak — Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Dari jumlah itu, 3.771 kasus terjadi pada anak usia 0–5 tahun, sementara 12.988 kasus lainnya pada kelompok usia di atas 5 tahun.
Dante juga mengingatkan bahwa jumlah kasus ISPA tahun ini lebih tinggi dibanding periode yang sama pada 2025, sehingga masyarakat — terutama yang memiliki anak kecil — diminta tetap waspada meski penerbangan dan aktivitas di sejumlah wilayah sudah berangsur normal.
Selain gangguan pernapasan, dr. Yogi Prawira dari IDAI turut menyoroti sisi psikologis pada anak yang terdampak bencana erupsi, seperti stres, kecemasan, hingga gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD) subklinis. Orangtua disarankan tetap tenang dan menjaga rutinitas anak sebisa mungkin selama masa tanggap darurat berlangsung.
13 Cara Melindungi Anak dari Abu Vulkanik Menurut IDAI

Berikut 13 rekomendasi lengkap dari UKK Respirologi IDAI, disusun berurutan sesuai prioritas penanganannya.
- Evakuasi lebih dulu, jika memungkinkan. IDAI menyebut mengungsikan anak menjauhi lokasi terdampak letusan sebagai langkah paling ideal. Jika kondisi tidak memungkinkan, ikuti arahan evakuasi resmi dari pihak berwenang setempat.
- Tetap di dalam rumah saat kualitas udara memburuk. Anak sebaiknya berada di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat ketika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di lingkungan berada di atas 100. Kondisi ini bisa dipantau lewat situs resmi pemantauan kualitas udara milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
- Jauhkan anak saat membersihkan abu di dalam rumah. Partikel abu yang menempel di lantai atau furnitur dapat kembali beterbangan dan terhirup ketika dibersihkan.
- Pastikan anak tidak berada di area yang sedang dibersihkan sampai proses pembersihan selesai.
- Gunakan lap atau kain basah saat membersihkan abu, atau basahi lebih dulu lantai maupun benda yang akan dibersihkan. Hindari menyapu dalam kondisi kering karena partikel abu justru akan kembali tersebar ke udara.
- Matikan alat yang menghisap udara luar, seperti AC, dan atur ke mode sirkulasi ulang (recirculation/closed vent). Jangan menyalakan kipas angin karena hembusannya dapat menerbangkan kembali partikel abu yang sudah mengendap di lantai atau furnitur.
- Gunakan masker khusus anak untuk usia di atas 2 tahun dan pastikan terpasang dengan benar. Orangtua perlu mengajarkan cara memakainya agar perlindungannya optimal.
- Berikan pelindung mata, misalnya kacamata anak, karena abu vulkanik juga berisiko menimbulkan iritasi pada mata.
- Kenakan pakaian tertutup untuk mengurangi paparan langsung pada kulit anak yang masih sensitif.
- Siapkan obat-obatan rutin bila anak memiliki riwayat asma atau alergi saluran napas, agar tersedia saat gejala kambuh.
- Hindarkan anak dari polusi tambahan di dalam rumah, seperti asap rokok atau asap dapur, yang dapat memperberat iritasi saluran napasnya.
- Pastikan anak cukup minum untuk mencegah dehidrasi selama masa paparan abu vulkanik berlangsung.
- Segera bawa ke rumah sakit bila muncul tanda sesak napas — laju napas meningkat, ada tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94% saat diukur dengan oksimeter jari.
Cara Praktis Membersihkan Rumah dari Abu Vulkanik

Poin 3 sampai 6 di atas sebenarnya membentuk satu rangkaian langkah pembersihan rumah yang aman. Urutannya bisa disederhanakan seperti ini:
- Pindahkan anak ke ruangan lain sebelum mulai membersihkan.
- Basahi lantai atau permukaan yang berdebu menggunakan air sebelum dilap.
- Gunakan kain atau lap basah, bukan sapu kering, agar partikel tidak kembali beterbangan.
- Matikan AC yang menarik udara dari luar, ganti ke mode sirkulasi ulang.
- Jangan nyalakan kipas angin sampai proses pembersihan selesai dan debu benar-benar hilang dari permukaan.
Cara ini sejalan dengan prinsip yang berlaku umum saat membersihkan ruangan berdebu tinggi — menjaga anak tetap terhindar dari asap tambahan seperti karbon monoksida di dalam rumah juga sama pentingnya dengan mengendalikan debu itu sendiri.
Kapan Anak Perlu Pakai Masker, dan Apa yang Harus Diperhatikan?

IDAI merekomendasikan masker khusus anak hanya untuk usia di atas 2 tahun. Masker yang terlalu longgar atau tidak menutup rapat hidung dan mulut tidak akan memberikan perlindungan optimal terhadap partikel abu yang sangat halus.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua:
- Pilih ukuran masker yang sesuai dengan wajah anak, bukan masker dewasa yang dikecilkan seadanya.
- Ajarkan anak cara memakai dan melepas masker dengan benar, termasuk tidak menyentuh bagian dalam masker dengan tangan kotor.
- Ganti masker segera bila sudah lembap atau kotor.
- Untuk anak di bawah 2 tahun, IDAI tidak merekomendasikan pemakaian masker — fokus utama untuk kelompok usia ini adalah menjaga mereka tetap berada di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat.
Gejala yang Wajib Diwaspadai Orangtua

Sebagian besar anak yang terpapar abu vulkanik hanya mengalami gejala ringan seperti hidung berair, batuk, atau mata sedikit perih — gejala yang polanya mirip dengan batuk dan pilek biasa pada anak. Namun IDAI menegaskan ada tanda-tanda yang tidak boleh ditunggu dan harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan:
- Laju napas anak meningkat jelas dari biasanya.
- Terlihat tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas (retraksi).
- Saturasi oksigen di bawah 94% saat diukur dengan oksimeter jari, bila orangtua memilikinya di rumah.
- Anak dengan riwayat asma atau alergi saluran napas mengalami perburukan gejala meski sudah menggunakan obat rutin.
Risiko ini menjadi lebih serius pada anak yang memiliki riwayat asma, alergi saluran napas, atau penyakit paru kronis, sehingga kelompok ini memerlukan pemantauan lebih ketat selama masa sebaran abu berlangsung.
Data Kemenkes: ISPA Meningkat, Anak Jadi Kelompok Rentan

| Kelompok Usia | Jumlah Kasus ISPA (kumulatif hingga 6 September 2026) |
|---|---|
| 0–5 tahun (balita) | 3.771 kasus |
| Di atas 5 tahun | 12.988 kasus |
| Total | 16.759 kasus |
Sumber: Kementerian Kesehatan RI, disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono, dikutip 10 September 2026.
Data ini tersebar di 23 kabupaten/kota pada 4 provinsi — Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Kemenkes menyatakan tren kasus ISPA pada 2026 lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2025, dan terus memantau kualitas udara di sejumlah titik menggunakan alat particulate counter, termasuk di area publik yang ramai dilalui anak dan keluarga.
Selain ISPA, Kemenkes turut memantau potensi gangguan lain akibat abu vulkanik seperti iritasi mata dan gangguan kulit, mengingat partikel halus PM2,5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu peradangan.
Sering Ditanya
Apa itu abu vulkanik dan bagaimana bedanya dengan debu biasa?
Abu vulkanik terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat halus dengan permukaan tajam. Berbeda dari debu biasa, partikelnya bersifat abrasif dan dapat menggores saluran pernapasan, ditambah kandungan gas iritan seperti SO₂ dan CO.
Bagaimana cara mengetahui kualitas udara di sekitar rumah sedang buruk?
IDAI merekomendasikan memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) melalui situs resmi pemantauan kualitas udara. Anak sebaiknya tetap di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat saat ISPU berada di atas angka 100.
Apakah anak balita boleh memakai masker saat abu vulkanik menyebar?
IDAI merekomendasikan masker khusus anak untuk usia di atas 2 tahun dengan pemasangan yang tepat. Untuk anak di bawah 2 tahun, fokus perlindungan utamanya adalah menjaga mereka tetap di dalam rumah, bukan pemakaian masker.
Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi PAGA Kabupaten Bantul (Pengurus Cabang Persatuan Ahli Gizi Anak Indonesia Kabupaten Bantul), merujuk pernyataan resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan data Kementerian Kesehatan RI. Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung — konsultasikan dengan dokter anak untuk kondisi kesehatan anak yang bersifat mendesak atau spesifik.
Referensi
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) — 13 rekomendasi Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi untuk melindungi anak dari abu vulkanik, dikutip lewat Liputan6.com, 7 September 2026.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — data kasus ISPA kumulatif akibat abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono, dikutip lewat Liputan6.com dan Media Indonesia, 10 September 2026.
Kompas.com — paparan dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA (K) mengenai kandungan silika kristalin abu vulkanik dan dampak psikologis pada anak, 6 September 2026.
Kompas.id — keterangan Ketua PP IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K) mengenai sifat abrasif abu vulkanik dan gas iritan SO₂/CO.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) — Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 14 Tahun 2020.
Write Reviews
Leave a Comment
No Comments & Reviews