13 Jul, 2026 | Lauren | No Comments
Kenali Ciri Disentri dan Beri-Beri, Jangan Sampai Salah Mengenali Gejalanya
pagakabbantul – Sekilas, disentri dan beri-beri sama-sama merupakan penyakit yang dapat mengganggu kesehatan. Namun, keduanya memiliki penyebab, gejala, hingga cara penanganan yang sangat berbeda. Disentri merupakan infeksi pada saluran pencernaan yang menyebabkan diare disertai darah atau lendir, sedangkan beri-beri adalah penyakit akibat kekurangan vitamin B1 atau tiamin yang memengaruhi sistem saraf maupun jantung.
Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap semua diare berat sebagai disentri atau mengira beri-beri hanyalah penyakit yang menyebabkan kaki bengkak. Padahal, kedua penyakit ini memiliki tanda khas yang perlu dikenali sejak awal agar penanganannya tidak terlambat.
Mengenali gejala lebih dini sangat penting karena baik disentri maupun beri-beri dapat menimbulkan komplikasi apabila tidak ditangani dengan tepat. Pada disentri, kehilangan cairan akibat diare dapat menyebabkan dehidrasi. Sementara pada beri-beri, kekurangan vitamin B1 yang berlangsung lama dapat mengganggu fungsi saraf, otot, hingga jantung.
Lalu, seperti apa ciri-ciri kedua penyakit tersebut? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Disentri?
Disentri adalah infeksi pada usus yang umumnya menyebabkan diare disertai darah atau lendir. Penyakit ini paling sering disebabkan oleh bakteri Shigella (disentri basiler) atau parasit Entamoeba histolytica (disentri amuba).
Penularan biasanya terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, tangan yang tidak bersih, maupun sanitasi yang kurang baik. Karena itu, disentri lebih mudah menyebar di lingkungan dengan akses air bersih yang terbatas atau kebiasaan mencuci tangan yang kurang baik.
Gejalanya dapat muncul beberapa hari setelah seseorang terpapar kuman penyebabnya. Tingkat keparahan penyakit juga berbeda-beda, mulai dari ringan hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Apa Itu Beri-Beri?
Berbeda dengan disentri, beri-beri bukan disebabkan oleh infeksi, melainkan akibat kekurangan vitamin B1 atau tiamin.
Vitamin B1 memiliki peran penting dalam membantu tubuh mengubah makanan menjadi energi dan menjaga fungsi sistem saraf, otot, serta jantung. Ketika tubuh kekurangan vitamin ini dalam waktu lama, berbagai organ dapat mulai mengalami gangguan.
Beri-beri lebih berisiko terjadi pada orang yang pola makannya kurang beragam, mengalami gangguan penyerapan nutrisi, mengonsumsi alkohol secara berlebihan, atau memiliki kondisi medis tertentu.
Penyakit ini secara umum dibedakan menjadi beri-beri kering yang lebih banyak menyerang sistem saraf dan beri-beri basah yang lebih dominan memengaruhi jantung serta sirkulasi darah.
Ciri Disentri yang Perlu Diwaspadai
Salah satu tanda paling khas disentri adalah diare yang disertai darah, lendir, atau keduanya. Kondisi ini berbeda dengan diare biasa yang umumnya hanya berupa feses cair tanpa darah.
Selain itu, penderita sering mengalami nyeri perut atau kram yang cukup kuat. Rasa mulas biasanya muncul sebelum buang air besar dan dapat berulang berkali-kali dalam sehari.
Sebagian orang juga mengalami demam, mual, muntah, serta tubuh terasa lemas akibat kehilangan cairan. Frekuensi buang air besar dapat meningkat secara signifikan sehingga risiko dehidrasi ikut bertambah, terutama pada anak-anak dan lansia.
Pada beberapa kasus, penderita juga merasakan dorongan terus-menerus untuk buang air besar meskipun isi usus sudah sangat sedikit. Kondisi ini dikenal sebagai tenesmus dan cukup khas pada disentri.
Apabila diare berdarah berlangsung terus-menerus, disertai demam tinggi, muntah berulang, atau muncul tanda-tanda dehidrasi seperti bibir kering, mata cekung, dan buang air kecil berkurang, penderita sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Ciri Beri-Beri yang Sering Tidak Disadari
Beri-beri biasanya berkembang secara bertahap sehingga gejalanya sering tidak langsung dikenali.
Pada beri-beri kering, penderita dapat mulai merasakan kesemutan pada tangan atau kaki, mati rasa, kelemahan otot, sulit berjalan, hingga penurunan refleks. Keluhan tersebut muncul karena kekurangan vitamin B1 memengaruhi fungsi saraf.
Sementara pada beri-beri basah, gejala lebih banyak berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah. Penderita dapat mengalami sesak napas, jantung berdebar, mudah lelah, pembengkakan pada tungkai, hingga tanda-tanda gagal jantung pada kondisi yang berat.
Karena gejalanya dapat menyerupai penyakit lain, diagnosis beri-beri tidak cukup hanya berdasarkan keluhan. Dokter biasanya akan mempertimbangkan riwayat makan, pemeriksaan fisik, serta bila diperlukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan penyebabnya.
Perbedaan Disentri dan Beri-Beri
Walaupun sama-sama memerlukan penanganan medis, kedua penyakit ini memiliki penyebab dan gejala yang sangat berbeda.
| Aspek | Disentri | Beri-beri |
|---|---|---|
| Penyebab | Infeksi bakteri atau parasit | Kekurangan vitamin B1 (tiamin) |
| Organ yang paling terdampak | Saluran pencernaan | Sistem saraf dan jantung |
| Gejala utama | Diare berdarah, nyeri perut, demam | Kesemutan, lemah, bengkak, sesak napas |
| Penularan | Bisa menular melalui makanan, minuman, dan kebersihan yang buruk | Tidak menular |
Perbedaan ini penting dipahami agar masyarakat tidak salah mengartikan gejala yang muncul dan dapat segera mencari pertolongan medis yang sesuai.
Apa Penyebab Disentri?
Disentri terjadi karena adanya infeksi pada saluran pencernaan. Penyebab yang paling umum adalah bakteri Shigella, sehingga penyakit ini sering disebut sebagai disentri basiler. Selain itu, disentri juga dapat disebabkan oleh parasit Entamoeba histolytica, yang dikenal sebagai disentri amuba.
Kuman penyebab penyakit ini biasanya menyebar melalui jalur fekal-oral, yaitu ketika makanan, minuman, atau tangan terkontaminasi tinja yang mengandung bakteri maupun parasit. Kondisi tersebut lebih mudah terjadi di lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik, akses air bersih yang terbatas, atau kebiasaan mencuci tangan yang belum optimal.
Risiko penularan juga meningkat pada tempat-tempat dengan kepadatan tinggi, seperti asrama, penitipan anak, atau lokasi yang mengalami gangguan sanitasi akibat bencana.
Karena itulah menjaga kebersihan menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran disentri.
Mengapa Beri-Beri Bisa Terjadi?
Berbeda dengan disentri, beri-beri bukan penyakit infeksi sehingga tidak dapat menular dari satu orang ke orang lain.
Penyebab utamanya adalah kekurangan vitamin B1 atau tiamin dalam waktu yang cukup lama. Vitamin ini dibutuhkan tubuh untuk mengubah karbohidrat menjadi energi sekaligus mendukung fungsi normal sistem saraf, otot, dan jantung.
Kekurangan vitamin B1 dapat terjadi karena pola makan yang kurang beragam, gangguan penyerapan nutrisi di saluran cerna, konsumsi alkohol berlebihan pada orang dewasa, atau kondisi medis tertentu yang meningkatkan kebutuhan tubuh terhadap vitamin tersebut.
Pada bayi, beri-beri juga dapat terjadi apabila ibu mengalami kekurangan tiamin sehingga kandungan vitamin B1 dalam ASI menjadi rendah. Walaupun kasusnya tidak sebanyak dahulu, kondisi ini masih dapat ditemukan di beberapa wilayah dengan masalah gizi.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Disentri?
Semua orang dapat terkena disentri, tetapi beberapa kelompok memiliki risiko yang lebih tinggi.
Anak-anak, terutama balita, termasuk kelompok yang paling rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang. Selain itu, anak cenderung lebih sering memasukkan tangan atau benda ke dalam mulut sehingga peluang terpapar kuman menjadi lebih besar.
Lansia dan orang dengan daya tahan tubuh yang menurun juga memiliki risiko mengalami gejala yang lebih berat apabila terinfeksi.
Seseorang yang mengonsumsi makanan atau minuman yang kurang terjaga kebersihannya, tidak mencuci tangan sebelum makan, atau bepergian ke daerah dengan sanitasi yang kurang baik juga memiliki kemungkinan lebih besar mengalami disentri.
Siapa yang Berisiko Mengalami Beri-Beri?
Beri-beri lebih sering berkaitan dengan kondisi gizi dan kesehatan seseorang.
Orang yang mengonsumsi makanan dengan variasi yang sangat terbatas dalam waktu lama berisiko mengalami kekurangan vitamin B1. Kondisi ini juga dapat terjadi pada individu dengan gangguan penyerapan nutrisi, misalnya akibat penyakit tertentu pada saluran pencernaan.
Pada beberapa kondisi medis, kebutuhan vitamin B1 juga dapat meningkat sehingga tubuh lebih mudah mengalami kekurangan apabila asupannya tidak mencukupi.
Meskipun demikian, pada masyarakat yang memiliki pola makan bergizi seimbang, beri-beri relatif lebih jarang ditemukan dibandingkan beberapa dekade yang lalu.
Cara Mencegah Disentri
Pencegahan disentri pada dasarnya berfokus pada kebersihan diri dan lingkungan.
Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan sebelum menyiapkan makanan merupakan langkah sederhana yang terbukti efektif mengurangi risiko penularan.
Selain itu, pastikan makanan dimasak hingga matang dan air minum berasal dari sumber yang aman. Buah dan sayuran sebaiknya dicuci bersih sebelum dikonsumsi.
Jika sedang mengalami diare, menjaga kebersihan toilet serta mencuci tangan dengan benar juga membantu mencegah penularan kepada anggota keluarga lain.
Perbaikan sanitasi, akses air bersih, dan edukasi mengenai kebersihan menjadi bagian penting dalam upaya menekan angka kejadian disentri di masyarakat.
Cara Mencegah Beri-Beri
Karena penyebab utamanya adalah kekurangan vitamin B1, pencegahan beri-beri dilakukan dengan memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi setiap hari.
Vitamin B1 dapat diperoleh dari berbagai jenis makanan, seperti beras yang tidak terlalu banyak diproses, gandum utuh, kacang-kacangan, biji-bijian, daging tanpa lemak, hati, ikan, telur, serta beberapa jenis sayuran.
Mengonsumsi makanan yang bervariasi jauh lebih baik dibandingkan hanya bergantung pada satu jenis bahan makanan.
Pada ibu hamil dan menyusui, pemenuhan kebutuhan gizi juga sangat penting karena berpengaruh terhadap kesehatan ibu sekaligus tumbuh kembang bayi.
Jika seseorang memiliki kondisi medis tertentu yang meningkatkan risiko kekurangan vitamin B1, dokter mungkin akan memberikan saran mengenai pola makan maupun suplementasi sesuai kebutuhan.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Baik disentri maupun beri-beri sebaiknya tidak diabaikan apabila gejalanya semakin berat.
Pada disentri, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan apabila diare berdarah berlangsung terus-menerus, muncul demam tinggi, muntah berulang, nyeri perut hebat, atau terdapat tanda-tanda dehidrasi seperti sangat haus, bibir kering, mata cekung, lemas, hingga buang air kecil yang berkurang.
Sementara pada beri-beri, konsultasi ke dokter dianjurkan apabila muncul kelemahan otot yang semakin berat, kesemutan yang tidak membaik, kesulitan berjalan, pembengkakan pada tungkai, sesak napas, atau jantung berdebar tanpa penyebab yang jelas.
Semakin cepat penyebab keluhan diketahui, semakin besar peluang penanganan yang tepat sehingga risiko komplikasi dapat dikurangi.
Mitos dan Fakta tentang Disentri dan Beri-Beri
Masih ada beberapa anggapan yang kurang tepat mengenai kedua penyakit ini.
Salah satu mitos yang cukup sering ditemui adalah bahwa semua diare berdarah pasti akan sembuh sendiri tanpa perlu diperiksa. Faktanya, diare berdarah dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk disentri, dan memerlukan evaluasi medis agar penyebabnya diketahui serta terapi yang diberikan sesuai.
Ada pula anggapan bahwa beri-beri hanya ditandai dengan kaki bengkak. Kenyataannya, gejala penyakit ini bisa sangat beragam. Pada beri-beri kering, keluhan justru lebih banyak berupa gangguan saraf seperti kesemutan, kelemahan otot, atau sulit berjalan.
Mitos lainnya menyebutkan bahwa beri-beri merupakan penyakit menular. Hal tersebut tidak benar karena beri-beri terjadi akibat kekurangan vitamin B1, bukan karena infeksi bakteri, virus, maupun parasit.
Memahami informasi yang benar membantu masyarakat mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi gejala tertentu, sekaligus menghindari penanganan yang terlambat.
Mengenali Gejala Sejak Dini Membantu Penanganan Lebih Cepat
Disentri dan beri-beri memang sama-sama dapat memengaruhi kesehatan, tetapi keduanya berasal dari penyebab yang sangat berbeda.
Disentri ditandai dengan infeksi saluran pencernaan yang umumnya menyebabkan diare berdarah, nyeri perut, dan demam. Sementara itu, beri-beri merupakan akibat kekurangan vitamin B1 yang dapat mengganggu fungsi saraf maupun jantung apabila tidak segera ditangani.
Mengenali ciri-ciri awal, menjaga kebersihan diri, menerapkan pola makan bergizi seimbang, serta tidak menunda pemeriksaan ketika muncul gejala yang mengkhawatirkan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan.
Perlu diingat pula bahwa diagnosis kedua penyakit ini tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan agar penyebab keluhan dapat dipastikan dan pengobatan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi yang dialami.
Referensi
- World Health Organization (WHO): https://www.who.int/
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC) – Shigellosis: https://www.cdc.gov/shigella/
- Mayo Clinic – Dysentery: https://www.mayoclinic.org/
- MSD Manual Consumer Version – Beriberi: https://www.msdmanuals.com/home
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: https://kemkes.go.id/
- Merck Manual Professional Edition – Thiamine Deficiency (Beriberi): https://www.merckmanuals.com/
Write Reviews
Leave a Comment
No Comments & Reviews